PAGARALAM – Sejumlah petugas Satpol PP bekerja sama dengan aparat Polres Kota Pagaralam kemarin menertibkan para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di pinggir jalan Pasar Dempo Permai.
“Penertiban para PKL dilakukan untuk mencapai target Piala Adipura. Dengan begitu,Kota Pagaralam akan terlihat indah dan bersih sehingga meningkatkan kenyamanan masyarakat setempat,” kata Kepala Satpol PP Kota Pagaralam Paber Napitulu kemarin. Menurut dia, penataan kota terus dilakukan untuk menciptakan Kota Pagaralam yang tertib,indah, dan bersih.
Karena itu,dia meminta para PKL dapat mematuhi peraturan dan ketertiban kota. “Selama ini penertiban sudah sering dilakukan bahkan bisa dikatakan rutin setiap hari, tetapi para PKL tetap saja tidak pernah mengindahkan petugas,”katanya. Rencana pemindahan atau relokasi para PKL ke kawasan Terminal Nendagung Kota Pagaralam, kata dia, merupakan kebijakan pemkot untuk meraih Piala Adipura.
Sebab, salah satu penilaian untuk mendapatkan Piala Adipura adalah kebersihan dan ketertiban pasar. Saat ini Pasar Dempo Permai masih terkesan kumuh karena masih adanya PKL yang berjualan sembarangan,terutama memakan badan jalan sehingga berpotensi menyebabkan kemacetan.
“Kita sangat mengharapkan pengertian dari para PKL yang masih nekat berjualan di pinggir jalan utama Pasar Dempo supaya segera pindah ke kawasan Terminal Nendagung. Dengan begitu, kota kita ini terlihat rapi,” katanya. Dia mengungkapkan, pihaknya tidak ingin melakukan penggusuran paksa kepada PKL,tetapi terkadang para pedagang itu sendiri yang selalu memancing emosi para petugas di lapangan.
Pantauan kemarin, sejumlah petugas menyisir lokasi larangan berdagang dan meminta para PKL untuk pindah ke lokasi baru, yaitu Terminal Nendagung, Kota Pagaralam. Namun, mayoritas PKL masih membandel dan menolak pindah. Akhirnya, petugas terpaksa mengambil langkah tegas dengan melakukan penggusuran paksa.
Sempat terjadi keributan antara aparat dan PKL. Bahkan, ada di antara PKL yang saat itu sedang hamil berteriakteriak ketika gerobak dagangannya diangkat petugas. Yanti, 33, pedagang buah, mengatakan, petugas ada yang bertindak kasar dan sangat memaksa para PKL untuk segera pindah.
Padahal, pemindahan para PKL ke lokasi berdagang yang baru bukan solusi yang baik. “Tolong kami. Kami ini para pedagang kecil yang tidak tahu harus mengadu ke mana. Sebab, sekarang pemerintah tidak pernah mengerti akan kebutuhan orang-orang kecil seperti kami ini.
Kalau kami pindah ke lokasi terminal, keuntungan yang kami dapat paling-paling hanya Rp70.000.Sedangkan,kalau kami berjualan di sini,keuntungan bisa mencapai Rp500.000,” katanya. Dia mengaku menahan sakit di tangannya karena terlibat dorongdorongan dengan petugas penertiban. Selain itu, kata dia, petugas masih bersifat pilih kasih dalam melakukan penertiban PKL.
Sebab, mereka melakukan penggusuran tidak merata.“Buktinya,para pedagang di Gang Hasan, sebelah kita ini, tidak pernah digusur karena rata-rata PKL di sana merupakan masih keluarga petugas,” ungkapnya. Lena, 33, mewakili para PKL, mengharapkan pemerintah dapat bertindak adil dan memberikan solusi terbaik bagi kelangsungan hidup para PKL.
Selama ini para PKL selalu merasa waswas saat berdagang karena harus kucing-kucingan dengan petugas penertiban. “Jujur, tolong disampaikan kepada pemerintah, kami para PKL mau saja pindah ke Terminal Nendagung. Tetapi, semua PKL harus dipindahkan ke sana jangan pilih kasih, mentang-mentang kami orang kecil,jadi semaunya ditindas. Kalau semua PKL pindah ke sana,pembeli sudah pasti akan belanja ke sana semua,” katanya kemarin.
Sementara itu, Asisten I Kota Pagaralam A Musni meminta para PKL menaati peraturan. Sebab, pemerintah penertiban dilakukan untuk mencapai target Piala Adipura. Apalagi, Kota Pagaralam merupakan kota wisata sehingga harus indah, bersih, dan tertata dengan baik.
“Kalau kota kita kotor dan semrawut mana ada wisatawan yang mau datang ke tempat kita. Target kita sebenarnya tidak hanya meraih Piala Adipura saja.Kita harapkan masyarakat mendukung untuk menjaga keindahan dan kebersihan kota, minimal diawali dari tempat tinggal masingmasing,” katanya. (Sumber: Seputar Indonesia tanggal 1211209) |
|